Sepucuk Surat Untuk Masa Mudaku
Malam di pesisir Papua Barat ini tidak pernah benar-benar sunyi, tetapi ia memiliki cara tersendiri untuk mengheningkan dada yang sedang riuh. Di balik dinding barak tempatku menepi, desir angin lepas berbisik membawa aroma asin laut dan kelembapan rimba timur yang asing. Cahaya lampu meja membiaskan pendar redup di atas jemariku yang bergerak lambat di atas layar. Di luar sana, bentang alam Teluk Bintuni berpadu menjadi kegelapan yang pekat, seolah telan bulat-bulat segala keriuhan yang pernah kutinggalkan di tanah Jawa. Di tempat sejauh ini, ribuan kilometer dari derit papan kedai Hira dan riuh obrolan di sudut-sudut Jogja, pikiran-pikiran yang biasanya terdesak oleh rutinitas kerja perlahan mengapung ke permukaan. Tak banyak cerita yang bisa kurangkai tentangnya, dan sejujurnya, ini memang bukan sekadar perkara merangkai aksara untuk konsumsi panggung publik. Ini adalah sebuah pengakuan yang mengendap jauh di dalam palung jiwa, sebuah catatan sunyi tentang pertemuan antara dua...


.jpg)